SEJARAH ANGKOLA ~Dilla Dwi Kusnanda~

 - 9 Maret 2022

 

SEJARAH ANGKOLA



Sejarah Suku Angkola

            Sejarah, Asal usul dan Peradaban Suku Batak. Suku Batak merupakan. Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasi beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai batak adalah, Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, Batak Mandailing. Bahasa pada Angkola mempunyai bahasa yang usica dengan bahasa Batak Toba dan Bahasa Mandailing karena domisilinya diapit oleh dua wilayah tersebut. Mereka berdiam dalam wilayah Tapanuli Provinsi Sumatera Utara, meskipun kini sebagian dari mereka telah hidup tersebar di luar daerah asalnya itu. Lalu agama yang dianut suku ini adalah agama Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Islam Sunni. Dan ada pula yang menganut kepercayaan tradisional seperti tradisi Malim dan juga menganut kepercayaan anisme (Sipelebegu atau Parbegu) yaitu kegiatan pemberi “sesaji” kepada roh baik, walaupun penganutnya sudah berkurang.

            Pada abad ke 6, Pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur barus tersebut itu dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu barang dagangan yang eskpor di samping kemenyan. Kemudian, pada abad ke 10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini berdampak para pedagang-pedagang Tamil terusir dari pesisir Sumatera. Pada masa berikutnya, perdagangan Kapur Barus mulai dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang telah mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal. 

·         Identitas Batak

            Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia. R.W Liddle mengatakan, bahwa sebelum ratus tahun ke-20 di Sumatera bagian Utara tidak terdapat kelompok etnis bagi satuan sosial yang koheran. Dan sebelumnya itu, di Sumatera Utara tidak terdapat sebuah kesatuan suku seperti ini. Hingga keabad ke- 19 hubungan yang terjalin antar usic/ lebih kepada hubungan antar individu, serta ada pula hubungan antar usica dan antar kekerabatan. Masyarakatnya belum merasa perlu untuk terikat secara kelompok yang lebih besar. Banyak orang beramsumsi, penduduk usical di nusantara adalah alasan yang membuat masyarakat Sumatera Utara lebih memiliki rasa dan keinginan untuk bersatu. Pendapat lain mengemukakan, bahwa munculnya kesadaran mengenai suatu keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman usical. Dalam disertai J. Pardede mengemukakan bahwa istilah “Tanah Batak” dan “rakyat Batak” diciptakan pihak asing. Sebaliknya, Siti Omas Manurung, seorang istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang adun Kro maupun Simalungun mengakui dirinya bagi Batak, dan Belanda lah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut. Ada suatu mitos yang memiliki berbagai ragam variasi menyatakan, bahwa Pusuk Buhit salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat “kelahiran bangsa Batak. Selain itu mitis-mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir. Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari beragam jenis marga, sebagian diakibatkan sebab mempunyai migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatera.

            Kemudian, terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari beragam macam marga, maka sebagian disebabkan adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatera tersebut. Dari penelitian penting yang dilakukan oleh J.H Neumann tentang Tradisi Karo, berdasarkan sastra lisan dan transkripsi dua naskah setempat, yaitu pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting. Menurut Pustaka Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di Minangkabau. Diperkirakan orang Tamil juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo. Maka dari itu, terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil. 

·         Bahasa

            Bahasa yang digunakan oleh orang Batak yaitu tetap bahasa Batak dan sebagian ada juga yang menggunakan bahasa melayu, biasanya yang menggunakan bahasa melayu ialah yang tinggal didekat pesisir pantai. Setiap puak yaitu sebuah kelompok sosial, memilih logat yang berbeda-beda. Seperti orang Karo menggunakan logat Karo, lalu logat Pakpak digunakan oleh Batak Pakpak, logat Simalungun dipakai oleh Batak Simalungun dan logat Toba digunakan oleh warga Batak Toba, yaitu Angkola dan Mandailing.

·     Kesenian Suku Batak

            Kesenian suku Batak merupakan bagian dari budaya yang ada di provinsi Sumatera Utara. Dari kesenian ini, banyak orang akan mengenal suku Batak dan daerah tempat tinggal sampai sejarahnya. Keunikan dari kesenian suku Batak menjadi ciri khas yang harus dijaga dan dilestarikan sampai kapan pun juga. Ada banyak kesenian suku Batak jika kita mau menelusurinya. Nah, salah satunya yaitu Tari Tortor merupakan kesenian yang dimiliki suku Batak. Seni Tari Tortor menjadi salah satu kesenian yang paling menonjol dalam kebudayaan masyarakat Batak. Dan ada lagi yaitu Tari serampang dua belas yang hanya bersifat hiburan. Kemudian, Batak juga memiliki alat usic tradisional yaitu Gong dan Saga- saga. Adapun warisan kebudayaan terbentuk seperti kain ulos. Kain ini adalah hasil kerajinan tenun suku batak yang selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan  upacara menari Tortor.

PENYEBARAN AGAMA

·         Masuknya Islam

        Dalam lawatannya pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan masyarakat Batak bagi orang-orang liar dan tidak pernah terpengaruh oleh agama-agama dari luar. Walupun Ibn. Battuta mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengisalkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melaksanakan kawin-kawin dengan perempuan Batak.

            Penyebaran Islam di tanah Batak erat kaitannya dengan peristiwa Perang Paderi pada awal abad ke-19. Para ahli sejarah juga menyebutkan Islam masuk ke tanah Batak pertama kali dibawa ole pedagang Minangkabau (Sumatera Barat) yang banyak menikah dengan perempuan di wilayah Tapanuli bagian selatan. Seiring waktu pemeluk Islam pun kian bertambah di tengah-tengah masyarakat Batak. Kemudia pada masa Perang Paderi, pasukan Minangkabau melakukan invasi ke tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran di Mandailing dan Angkola. Kerajaan Aceh juga berperan atas penyebaran Islam di Tanah Karo dan Pakpak. Sementara Simalungun dipengaruhi Islam dari warga Melayu di pesisir Sumatera Timur.

·     Masuknya Kristen

            Misionaris atau penyebar agama pertama kali berasal dari Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, Misi pengkristenan dijalankan oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen pada tahun 1881 dan ia pun mempelajari bahasa Batak. Kemudian Dr. Ludwig Ingwer Nommensen terjemahkan Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya ke bahasa Batak Toba pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Lalu teks terjemahan tersebut langsung dicetak dalam hurud latin di Medan pada tahun 1893. Menurut pendapat H. O. Voorma, terjemahan tersebut tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.

            Selanjutnya Pastor Misionaris pertama yakni Pastor Sybrandus van Rossum, OFM.Cap yang menjalankan misi Katolik di Tanah Batak. Pastor Sybrandus van Rossum, OFM.Cap adalah imam Gereja Katolik misionaris pertama di Tanah Batak yang menyebarkan agama Kristen Katolik. Pastor Sybrandus van Rossum, OFM.Cap masuk ke jantung Tanah Batak, yakni Balige pada tanggal 5 Desember 1934. Masyarakat Toba dan sebagian Karo menyerap agama Kristen dengan sangat cepat, dan pada awal abad ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya.

·     Kepercayaan

            Sebelum suku Batak Toba mengenal agama, mereka menganut sistem kepercayaan religi tentang Mulajadi na Bolon yaitu salah satu Tuhan yang menduduki posisi terpenting dalam agama tersebut yang memiliki kekuasaan yang luas dan besar diatas langit serta bermakna sebagai Tuhan yang Maha Besar dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu. Selain sebagai pencipta, Debata Mulajadi na Bolon juga menciptakan dan mengatur kejadian gejala-gejala alam. Dalam hubungan dengan jiwa dan roh, orang Batak mengenal 3 konsep yaitu tondi, sahala dan begu. Tondi adalah jiwa atau roh orang itu sendiri dan sekaligus merupakan kekuatannya. Sahala adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Tidak semua memiliki sahala, dan beberapa orang yang memiliki sahala itu jumlah dan kwalitasnya berbeda-beda. Sahala raja lebih kuat daripada sahala orang biasa, sahala kelompok hula-hula daripada kelompok boru. Sedangkan begu adalah seperti tingkah laku manusia, tetapi berlaku secara kebalikannya. Begu ada yang baik dan nada yang jahat.

·         Salam Khas Batak

        Bahasa salam khas ini biasanya diucapkan dalam kehidupan Suku Khas Batak sehari-hari, saat acara adat, kunjungan pada saudara maupun keluarga bahkan disaat seseorang berjumpa kembali setelah terpisah sekian lama maka khas ini akan selalu di ucapkan oleh Suku khas Batak sebelum melanjutkan perbincangan selanjutnya. Namun, salam khas Suku Batak yang paling terkenal adalah kata Horas dari Suku Batak Toba, karena sangat terkenalnya tidak jarang kita mendengar orang-orang dari luar yang berlibur di Danau Toba mengucapkan kata Horas dan menjadi akrab di telinga mereka.

       Namun masih ada dua salam lagi yang kurang popular di masyarakat yakni Mejuah juah dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing-masing berdasarkan puak yang menggunakannya.

1.      Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina”

2.      Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”

3.      Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”

4.      Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Boba!”

5.      Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”

 

·         Kekerabatan

            Kekerabatan pada masyarakat Batak memiliki dua jenis, yaitu kekerabatan yang berdasarkan padagaris keturunan atau geneologis dan berdasarkan pada sosiologis. Sementara kekerabatan teritorial tidak ada. Semua suku bangsa Batak memiliki marga, inilah yang disebut dengan kekerabatan berdasarkan geneologis, dan dimana terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak. Sementara kekerabatan berdasarkan sosiologis terbentuk melalui perkawinan. Sistem kekerabatan muncul di tengah-tengah masyarakat karena menyangkut hukum antar satu sama lain dalam pergaulan hidup.  Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah yang disebut dengan marga. Misalnya, Harahap vs Marga lainnya.

Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi : Jonok dengan partubu jonokan do dongan parhundul. Yang artinya adalah agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah keluarga terdekat. Akan tetapi, dalam pelaksanaan adat tetap yang pertama dicari adalah yang satu marga dengan tidak melupakan tetangga.

            Dalam persoalan perkawinan, dalam tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan. Maka dari itu, apabila ada yang menikah haruslah mencari pasangan hidup dari marga lain. Apabila ia menikah dengan seseorang yang bukan dari suku Batak, maka ia harus mengadopsi satu anak yang memiliki marga Batak (berbeda klan).

·         Ritual Kanibalisme




Dibawah ini beberapa dokumentasi mengenai praktik ritual kanibalisme pada kalangan suku Batak terdahulu.

1.      Marcolo Polo, seorang penjelajah yang sempat datang di pesisir Timur Sumatera dari bulan April sampai September 1292, yang menuliskan pengalamannya bertemu kelompok masyarakat yang memakan manusia. Dalam catatannya, masyarakat kanibal tersebut dikenal dengan “Battas”. Mereka mengonsumsi kerabat yang mengalami sakit parah dan dianggap tidak dapat lagi disembuhkan. Walau Marco Polo hanya tinggal di wilayah pesisir dan tidak pernah pergi langsung kepedalaman untuk memverifikasi cerita tersebut, namun dia bisa menceritakan ritual tersebut.

2.      Niccolo Da Conti (1395-1469), ia datang ke Sumatera pada tahun 1421 untuk mengemban misi perdagangan di Asia Tenggara (1414-1439). Dia menuliskan sebuah deskripsi singkat tentang penduduk Batak “Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka”.

3.          Thomas Stamford Raffles 1820 mempelajari Suku Batak dan berbagai ritual-ritualnya, serta undang-undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran yang/ dibenarkan. Berdasarkan catatan Raffles, kegiatan kanibalisme terhadap kerabat biasa dilakukan terhadap para orang tua yang dianggap terlalu tua untuk bekerja, atau terhadap para pelaku tindak kejahatan. Khusus pelaku kejahatan dimaka dalam kondisi hidup-hidup dengan daging dimakan mentah atau dipanggang dengan kapur, garam dan sedikit nasi.

4.           Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak pada tahun 1840-1841. Junghuhn mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut “Battaer”). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan berbahaya dan lapar, ia tiba dia sebuah desa yang sangat ramah. Makanan yang ditawarkan oleh tuan rumahnya adalah daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya. Namun hal ini terkadang dibesar-besarkan dengan maksud menakuti-nakuti orang/pihak yang bermaksud menjajah dan/atau sesekali agar mendapatkan pekerjaan yang dibayar baik sebagai tukang pundak bagi pedagang maupun sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang diganggu oleh bajak laut.

5.              Oscar von Kessel mengunjungi Silindung pada tahun 1840-an dan pada tahun 1844 ia mungkin orang Eropa pertama  yang mengamati ritual kanibalisme di Suku Batak yang dimana seorang pezina akan dihukum dan dimakan hidup. Dan menariknya terdapat deskripsi parallel dari Marsden untuk beberapa hal penting. Von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang Batak berdasarkan hukum dan aplikasi suatu pelanggaran yang sangat sempit, misalnya seperti kejahatan pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Lalu mereka akan memberikan Garam, cabemerah, dan lemon untuk sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.

6.      Ida Pfeiffer mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak mengamati kanibalisme apapun, tapi dia diberitahu bahwa : “Tahanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan lalu untuk dijadikan minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam pudding dengan nasi. Tubuh kemudia didistribusikan seperti, telinga, hidung, dan telapak kaki untuk diberikan kepada raja. Sedangkan telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung serta hati alan dibuat menjadi makanan khas. Lalu daging pada umumnya akan dipanggang serta dimakan dengan garam. Kalau perempuan tidak diizinkan mengambil bagian dalam makan malam publik besar.

            Pada 1890 ketika colonial Belanda menduduki Sumatera, kanibalisme oleh Suku Bata telah dilarang. Ritual mengerikan dari Suku Batak ini bertahan hingga awal abad ke-20, dan telah jarang dilakukan sejak 1816 karena faktor pengaruh agama pendatang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DALAM SPANDUK